Wednesday, May 23, 2007

Pak Kadar, Pendeta Yang Sering Diutus


Anak judul di atas tidaklah mengada-ada karena sebagai pendeta jemaat, Pendeta Kadarmanto Hardjowasito (Pak Kadar) telah sering diutus ke persidangan gerejawi, baik tingkat klasis, sinode, nasional, maupun internasional. Dan lebih tidak mengada-ada lagi, karena selama setahun terakhir ini menjelang masa emeritusnya, Pak Kadar mengalami dua kali pengutusan selaku: pendeta jemaat untuk pelayanan khusus di STT Jakarta dan Ketua Umum Sinode GKJ Jakarta.2 Tulisan ini secara khusus mencoba merekam latar belakang secara kronologi-historis di balik kedua pengutusan itu.

Pendeta Jemaat untuk Pelayanan Khusus di STT Jakarta

Dalam rapat MPL 778, 10 Maret 2006, Majelis GKJ Jakarta (GKJJ) memutuskan untuk memberikan izin bagi Pak Kadar menjadi tenaga penuh waktu di STT Jakarta. Keputusan itu merupakan buah dari serangkaian percakapan perihal pelayanan Pak Kadar, baik di kalangan warga jemaat (kelompok) maupun anggota majelis.

Dari sarasehan yang dilakukan di tiap kelompok (Februari-Desember 2005) mengemukalah pendapat, bahkan menjadi kesimpulan, pelayanan Pak Kadar dalam bidang pengajaran di GKJJ terasa manfaatnya. Kepiawaian Pak Kadar di bidang pengajaran, sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya, dirasakan dan diakui baik oleh warga jemaat. Warga jemaat juga menyadari dan maklum, kepakarannya di bidang Pendidikan Kristiani (PK) berguna tidak hanya bagi GKJJ, tetapi juga di luar GKJJ.

Pemahaman semacam ini bukan barang baru. Sejak semula Majelis GKJJ memahami akan minat dan kekuatan Pak Kadar di bidang PK sehingga mengizinkannya studi S-2 di Amerika Serikat. Majelis juga tidak keberatan saat studi S-3 Pak Kadar memikul pula pengutusan dari STT Jakarta (STTJ) dalam rangka Faculty Development Plan dengan surat resmi dari PERSETIA (Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologia di Indonesia) No.:419/100/F-8687, 25 Maret 1987, dengan lampirannya.

Sewaktu kembali dari Amerika Serikat (1991), Pak Kadar langsung diminta membantu mengajar di STT Jakarta. Tiga tahun kemudian secara resmi Badan Pengurus STT (LPTT) menyurati Sinode GKJ untuk meminta Pak Kadar menjadi dosen tetap dengan surat No.: 006/I/93, 14 Januari 1993.

Selanjutnya, ketua STT Jakarta, Pdt. Prof. Dr. Liem Khiem Yang, menyurati Deputat Keesaan Sinode dengan tembusan kepada Majelis GKJJ (Surat No.: 160/Ket.VIII/94, 2 Agustus 1994), dan datang berembug dengan Majelis untuk meminta GKJJ merelakan Pak Kadar membantu STT Jakarta penuh waktu. Menanggapi hal tersebut, Majelis GKJJ mengizinkan Pak Kadar membantu STT Jakarta, asal tetap menjadi pendeta jemaat di GKJJ.

Dalam pelayanannya di STTJ, Pak Kadar diangkat secara resmi (dengan sertifikat pengangkatan) sebagai Faculty Member dari The South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST). Melalui pengangkatan tersebut, Pak Kadar diharapkan juga membimbing para mahasiswa Pasca Sarjana dalam Program bersama Sekolah-sekolah Teologi di Asia Tenggara (SEAGST).

Pada 16 Januari 1996 (surat no.: 014/Ket./I/96), Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, selaku Ketua STT Jakarta, meminta Majelis agar mengizinkan Pak Kadar membantu STTJ dua hari dalam seminggu. Permohonan tersebut dibalas dengan surat No.: 060/MG/K/VIII/’97, hal: “Izin bagi Pdt Dr. Kadarmanto Hardjowasito.”

Dan seiring bergulirnya waktu, Pak Kadar merintis, sekaligus menjadi ketua, Program Magister Ministri. Sekarang ini Pak Kadar juga menjadi Ketua Program Doktor Ministri di STTJ.

Dari beberapa fakta di atas, nyatalah bahwa Majelis GKJJ di masa lalu memandang keberadaan Pak Kadar di STT Jakarta sebagai bentuk sumbangan GKJ Jakarta, sekaligus GKJ pada umumnya.

Selanjutnya, Majelis GKJJ menerima surat dari Ketua STTJ, Pdt. Dr. Robert Borong, 13 Februari 2006, perihal permohonan STTJ untuk meminta Pak Kadar sebagai dosen tetap dengan segala konsekuensi biaya hidupnya ditanggung oleh GKJJ.

Berdasarkan surat tersebut, Majelis GKJJ memutuskan untuk mengizinkan Pak Kadar, sebagai pendeta jemaat GKJJ, menjadi tenaga penuh waktu di STTJ.
Pengutusan tersebut dilakukan setahun menjelang masa emeritus Pak Kadar berdasarkan beberapa alasan:

Pertama, tenaga Pak Kadar sangat dibutuhkan STTJ. Fakta bahwa tujuh dosen STTJ sedang menyelesaikan studi S-3 di luar negeri, menyebabkan STTJ mengambil kebijakan untuk memaksimalkan tenaga pengajar yang ada agar tidak mengganggu pembelajaran di STT Jakarta.

Kedua, kalaupun ada tenaga lain, keuangan STTJ tidak memungkinkan untuk mengangkat tenaga baru. Dan bagi STTJ, bentuk kerja sama seperti ini juga bukan hal baru. Gaji beberapa dosen STT Jakarta tetap ditanggung penuh gereja yang mengutusnya, misalnya: GKI dan GPIB.

Ketiga, Majelis GKJJ memandang Pak Kadar sebagai bentuk partisipasi aktif GKJJ dalam dunia pendidikan teologi Indonesia. Kalau menunggu saat emeritus, sesungguhnya GKJJ tidak menyumbang apa pun. Bagaimanapun, kiprah pelayanan pendeta emeritus hanya ditentukan (berada dalam wewenang) pribadi yang bersangkutan. Bahkan, GKJJ perlu memahaminya sebagai persembahan dalam dunia pendidikan teologi di Indonesia.

Keempat, pengutusan itu seperti membaptis seluruh keterlibatan Pak Kadar selama 15 tahun di STT Jakarta. Bagi Pak Kadar, pengutusan itu laksana sumber energi yang besar, yang sangat bermakna, karena apa yang dulu disambi-sambi, telah diakui secara yuridis formal.

Sekali lagi, Pak Kadar adalah pendeta jemaat GKJJ yang diutus menjadi tenaga penuh waktu di STTJ. Status kependetaan Pak Kadar bukanlah Pendeta Pelayanan Khusus (PPK), tetapi Pendeta Jemaat untuk Pelayanan Khusus di STTJ hingga yang bersangkutan berusia 65 tahun. Jadi, yang mengutus adalah GKJJ dan biaya hidupnya ditanggung penuh GKJJ. Biaya Hidup PPK lazimnya ditanggung oleh tempat di mana pendeta tersebut melayani.

Mengapa tidak di-ppk-kan (dijadikan pendeta pelayanan khusus) sekalian? Sejak semula, GKJ Jakarta memang tidak ingin menjadikan Pak Kadar sebagai PPK. Bagaimanapun, hubungan antara jemaat dan pendeta jemaat lebih akrab ketimbang antara jemaat dan pendeta pelayanan khusus. Setidaknya, ikatan batin antara jemaat dan pendeta jemaat dirasakan lebih kuat.

Lalu, mengapa baru sekarang, setahun menjelang masa emeritus, dan bukan pada waktu sebelumnya? Harus diakui, GKJ Jakarta di masa-masa lampau agaknya masih belum rela melepaskan Pak Kadar untuk pelayanan yang lebih luas.

Pengutusan Pak Kadar sebagai Pendeta Jemaat untuk Pelayanan Khusus di luar jemaat, dengan biaya hidup ditanggung penuh oleh jemaat tersebut, bukanlah perkara biasa di lingkungan Sinode GKJ. Ini pun merupakan hal baru dalam sejarah GKJJ. Demikianlah, GKJJ telah memulai babak baru dalam hidupnya selaku jemaat, yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga kebutuhan dunia sekitar. Dengan cara ini, GKJJ telah berupaya aktif dalam menggarami dunia, khususnya dalam dunia pendidikan teologi Indonesia.

Pengutusan Pak Kadar sebagai Pendeta Jemaat untuk Pelayanan Khusus di STTJ dilaksanakan pada ibadah HUT GKJJ ke-64. Pengutusan ini dapat kita maknai pula sebagai kado (persembahan) ulang tahun dari dan bagi Gereja Kristen Jawa Jakarta.

Ketua Umum Sinode GKJ

Seiring waktu, pada Sidang Sinode XXIV, November 2006, Pak Kadar diangkat sebagai Ketua Umum Bapelsin 2006-2009. Menanggapi pengangkatan tersebut, GKJ Jakarta merasa perlu bersyukur karena pendeta jemaatnya dipercaya menjadi Ketua Umum Sinode GKJ. Majelis GKJ Jakarta dapat memahami dan menerima hal tersebut sebagai “kebutuhan sinode”. Karena persidangan Sinode memandang kebutuhan lebih utama ketimbang status kependetaan, Majelis Jemaat GKJJ berpendapat bahwa Pak Kadar dapat menjalani tugas tersebut dengan status pendeta emeritus.

GKJ Jakarta memahami bahwa status emeritasi Pak Kadar tidak akan menjadi penghambat baginya dalam menjalankan tugas selaku ketua umum sinode. Oleh karena itu, Majelis Jemaat GKJJ tidak merasa perlu menunda masa emeritasi Pak Kadar. Meski terkesan aneh bagi gereja-gereja berstruktur sinodal – ada sinode yang diketuai oleh pendeta emeritus, Majelis Jemaat GKJJ memahaminya sebagai keunikan GKJ yang menganut sistem presbiterial.

Memang, dalam Tata Gereja Sinode GKJ seorang pendeta emeritus tidak termasuk dalam strukur majelis jemaat, tetapi secara fungsional dia tetaplah seorang pendeta. Karena dalam sistem presbiterial yang dianut sinode GKJ tidak mengenal jabatan Majelis Sinode, maka Majelis Jemaat GKJ Jakarta memahami bahwa status emeritus Pak Kadar tidak akan menjadi penghalang baginya dalam menjalankan fungsinya selaku Ketua Umum GKJ Jakarta.

Lagipula, dalam struktur Bapelsin saat ini hanya jabatan Sekumlah yang bersifat penuh waktu. Sehingga, Majelis Jemaat GKJ Jakarta tetap pada keputusannya, sesuai akta sidang MPL 776, 13 Januari 2006, Pak Kadar akan memasuki masa emeritus pada 22 Juni 2007.

Dengan demikian, warga jemaat pun bisa belajar bahwa status emeritasi tidaklah berarti tamatnya karya kependetaan seorang pendeta. Emeritasi merupakan bentuk penghargaan bagi seseorang yang telah mengakhiri tugasnya dengan baik. Bagaimanapun, emeritus, dari bahasa latin exmeritus, secara harfiah berarti pergi ke luar dengan terhormat. Dan itu tidak berarti bahwa seorang pendeta emeritus tidak boleh memikul jabatan tertentu di luar jemaat.

Bahkan, GKJ Jakarta dapat memahami Ibadah Emeritasi Pak Kadar sebagai penutup masa struktural selaku pendeta jemaat, sekaligus pembuka masa fungsional selaku pendeta emeritus.

yoel m. Indrasmoro/LP4WG

-------------------------------
tulisan diatas dipersembahkan guna menyambut kebaktian emiritasi Pendeta DR. Kadarmanto Hardjowasito, Th.M. yang sedianya akan diselenggarakan tanggal 22 Juni 2007 dimulai pukul 18.00 (didahului dengan makan soto bersama) di GKJ Jakarta.

Kotbah Kenaikan Yesus Kristus

Sudah Selesai

(Kisah Para Rasul 1:1-11, Lukas 24:44-53)


Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kis. 1:11).

Inilah sapaan kedua malaikat kepada para murid yang terpana menyaksikan peristiwa kenaikan Yesus. Mereka terpaku menyaksikan Yesus, Guru mereka, pergi meninggalkan mereka dalam kemuliaan-Nya. Cara begini memang bukan hal biasa. Tak heran mereka semua terpaku menyaksikan peristiwa itu.

Ya, mereka terpaku. Sekali lagi, peristiwa kenaikan Yesus dalam kemulianlah yang membuat mereka terpukau. Merupakan hal yang wajar jika mereka terpaku. Ya, mereka terpaku karena terpukau. Tetapi, keterpakuan itulah yang membuat mereka untuk sesaat lupa diri. Keterpakuan itu pulalah yang membuat mereka lupa akan tugas mereka. Terpaku karena terpukau memang tidak salah. Menjadi salah kalau keterpakuan itu membuat mereka lupa akan kewajiban mereka. Dan karena itulah, malaikat langsung menegur mereka.

Kita tidak pernah tahu berapa lama para murid terpaku. Kita tidak pernah tahu berapa lama para murid menengadah ke langit. Tetapi, yang kita tahu dengan pasti mereka semua ditegur karena terlalu asyik memandang ke langit. Kita tahu dengan pasti bahwa para murid ditegur karena terlalu asyik menengadah.

Sekali lagi, menengadah tidaklah salah. Tetapi, terlalu asyik menengadah sehingga lupa persoalan sehari-hari bukanlah hal yang benar. Terlalu asyik menengadah sehingga tak hirau dengan kewajiban diri pastilah salah.

Teguran itu diawali dengan frasa Hai orang-orang Galilea. Frasa ini mengingatkan bahwa mereka adalah orang Galilea. Mereka seakan diingatkan akan asal-usul mereka. Mereka seakan diingatkan akan tempat di mana mereka tinggal.

Dan ini berarti bukanlah tanpa maksud Tuhan menempatkan mereka di tanah Galilea. Lebih tegas lagi, asal-usul seseorang, latar belakang seseorang, tempat tinggal seseorang bukanlah suatu hal yang kebetulan. Tuhan berkarya dalam semuanya itu. Bukanlah kebetulan melainkan kebenaran.

Sama halnya dengan keberadaan kita sekarang ini. Pada hemat saya bukanlah kebetulan saya seorang Jawa. Allah punya maksud saat Dia menempatkan yoel muwun indrasmoro lahir dan besar dalam keluarga Jawa. Dan bukan kebetulan pula jika pada usia setahun ayah saya, selaku kepala keluarga, memboyong keluarganya ke Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Saya meyakini Allah bekerja di dalam semuanya itu. Dan kalau gaya hidup saya adalah gaya Betawi, saya yakin Allah punya kehendak khusus pula dalam diri saya. Persoalannya: apakah saya sungguh-sungguh mencari tahu apakah kehendak khusus Allah dalam diri saya.

Hai orang-orang Galilea. Frasa ini juga mengingatkan bahwa mereka masih berada di bumi. Mereka belum berada di surga. Dan jika mereka berada di bumi, itu berarti ada tanggung jawab yang harus dipikul. Ada karya yang harus diselesaikan. Ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Dan semua itu merupakan panggilan mereka sebagai manusia.

Jelas di sini bahwa panggilan manusia bukanlah diam, termenung, terpaku, melamun, berkhayal. Manusia dipanggil untuk bekerja. Dan itu berarti menghasilkan buah.

Itu jugalah yang dinyatakan Yesus, Sang Guru, sebelum Dia pergi meninggalkan mereka: ”Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” (Luk. 24:44).

Perhatikanlah kata digenapi yang dipakai di sini! Yesus adalah pribadi yang menggenapi. Dia menyelesaikan segala sesuatunya. Dia tidak meninggalkan pekerjaan rumah dan menyuruh orang lain yang mengerjakan pekerjaan rumah-Nya. Tidak. Dia menggenapi semua kewajiban yang harus diselesaikan-Nya. Dan di atas kayu salib, Yesus jugalah yang berkata, ”Sudah selesai.”

Sudah selesai. Tak ada lagi pekerjaan rumah. Sudah selesai. Tak ada lagi utang. Sudah selesai.

Dan sebagai pengikut Kristus, pada hemat saya, panggilan kita jugalah untuk berkata sudah selesai di akhir perjalanan hidup kita. Kita memang tidak akan pernah tahu kapan hidup kita berakhir. Oleh karena itu, kerjakanlah apa yang bisa kita kerjakan hari ini. Jangan tunda! Esok mungkin sudah terlambat.

Dan tugas setiap pengikut Kristus ialah menjadi saksi. Frasa-frasa Yerusalem, Yudea, Samaria, ujung-ujung bumi, itu berarti bahwa kita harus menjadi saksi di mana pun kita berada.

Baiklah kita tetap ingat: Kristen berarti pengikut Kristus. Artinya, panggilan seorang Kristen ialah tetap mengikuti Kristus dalam situasi dan kondisi apa pun. Ini bukan pilihan. Ini merupakan konsekuensi logis sebagai orang-orang yang memanggil dirinya sebagai Kristen.

Menjadi Kristen berarti menjadi pengikut Kristus. Menjadi Kristen berarti membiarkan Kristus yang berjalan di depan dan kita mengikuti Dia dari belakang. Menjadi Kristen berarti memikul salib kita masing-masing dengan setia.

Setia. Amsal menyatakan bahwa banyak orang menyebut diri baik hati, orang setia siapakah yang mendapatkannya? Banyak orang baik, namun tak banyak orang yang setia. Orang baik dalam kondisi kritis mungkin bisa menjadi tidak setia.

Setia berarti fokus. Setia berarti memokuskan diri pada apa yang dikerjakan. Fokus berarti kualitas pekerjaan dan bukan kuantitas pekerjaan. Fokus berarti lebih menekankan kepada mutu pekerjaan ketimbang banyaknya pekerjaan.

Fokus itu seperti seorang pelari maraton. Dia tidak asal berlari tanpa tujuan. Nggak lucu bukan? Berlari dengan cepat, sampai duluan, nomor satu. Tak ada yang mengikuti! Setelah setengah jam, ternyata di finis di tempat yang salah! Fokus!

Setia berarti menyelesaikan sesuatu hingga akhir. Setia berarti sampai selesai. Setia berarti tetap bertahan meski susah sungguh. Setia berarti tetap tak mau undur dari gelanggang meski capek. Setia berarti kalau sudah capek berlari, ya jalan saja. Kalau memang capek, benar-benar capek, ya istirahat! Jangan tinggalkan gelanggang!

Setia. Setia terhadap panggilan kita – entah panggilan sebagai suami, isteri, pacar, anak, orang tua, adik, kakak, karyawan, majikan, profesional, pejabat, warga jemaat, komisi, tua-tua, diaken, juga pendeta. Sekali lagi, jangan tinggalkan gelanggang!

Dan setia berarti mata kita tidak hanya memandang ke langit, tetapi memandang ke bumi, tempat kita berpijak.

Amin.

ym indrasmoro

-------------------------------------

kotbah disampaikan oleh Pdt. Ir.Yoel Muwun Indrasmoro S.Th. tgl. 17 Mei 2007 pada kebaktian pagi pukul 06.30 berbahasa Indonesia dan kebaktian siang pukul 08.30 dalam bahasa Jawa.


Tuesday, May 15, 2007

Selamat Berkunjung


Gereja Kristen Jawa Jakarta mengucapkan selamat datang kepada para pemerhati dan nara sumber yang berkenan untuk mengunjungi blog ini.

Blog ini dipersembahkan sebagai bagian dari informasi kami kepada sesama .

Salam kasih,

Kis Prijono
____________
Pnt.Komunikasi